Login

Remember Me

       

Contact Us

Alamat :

Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat
Jl. M. Hambal No. 3 Pontianak 78121

Phone +62 561 8101080
Fax +62 561 766038

email : disbunkalbar@gmail.com

UPT Pengawasan dan Sertifikasi Benih Perkebunan                                      Jl. Budi Utomo No. 56 B, Siantan Hulu Pontianak 78242

 

Top Panel
- - - - - -

Pengolahan, Pemasaran dan Pembinaan Usaha

Minyak Kelapa Murni Menjadi Peluang Baru di Tengah COVID-19

 

Minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) yang dihasilkan dari proses hilirisasi terhadap kelapa dalam menjadi peluang baru di tengah COVID-19 karena satu di antara manfaatnya untuk meningkatkan daya tahan tubuh. "Potensi kelapa dalam untuk produk VCO di Kalbar sangat besar. Nah, ini menjadi peluang bagi petani dalam di Kalbar. VCO sangat baik untuk meningkatkan daya imunitas tubuh kita karena ada bahan aktif yang terkandung dalam asam lemak jenuh. VCO bersifat antivirus. Daya tahan tubuh kita di tegah wabah COVID- 19 penting," ujar Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero. Dengan wabah ini jelasnya sangat baik sekali untuk kembali mempopulerkan VCO. Sebab sebelumnya di Kalbar sempat hilang dari pasar, hanya sedikit saja yg masih produksi.

 

"Jadi momen sekarang bisa jadi kebangkitan kembali industri dan nilain tambah kelapa dalam. Hilangnya popularitas VCO waktu itu karena mungkin masyarakat menganggap tidak perlu. Akan tapi sejak COVID-19 yang hanya bisa dilawan dengan imunitas tubuh, VCO pasti menjadi alternatif pilihan masyarakat," katanya. Sejauh ini kata Hero potensi kelapa dalam di Kalnar sangat besar.  Ia menyebutkan seperti di Kubu Raya, Mempawah, Sambas dan lainnya. Hanya saja petani masih menjual dalam bentuk kelapa bulat dan kopra.

 

"Sebagian besar dan mendominasi petani menjual kelapa dalam bentu kelapa jambul dan kopra saja," jelas dia. Terkait pengembangan VCO di Kalbar menurutnya sudah perusahaan lokal di Kalbar yang tengah merintis. Bahkan VCO yang dihasilkan dari kelapa dalam organik. Segala berbau organik saat ini sangat diminati pasar baik dalam dan luar negeri. "Kita awal tahun kemarin telah melakukan verifikasi untuk memberikan rekomendasi kepada kebun petani di Padang Tikar 2, Kubu Raya. Sebab ada perusahan lokal siap menampun hasil kelapa dalam organik masyarakat sebagai bahan baku VCO," kata dia.

 

Pihaknya sangat mendukung upaya berbagai pihak yang bisa meningkatkan nilai tambah petani. "Dengan ada nilai tambah petani, bukan hanya menjual bahan baku saja namun hilirisasi tentu meningkatkan nilai tukar petani. Dengan demikian petani bisa lebih sejahtera," kata dia.

 

Sementara itu, Direktur Utama PT Indowell Cipta Lancar, Yan Andria Soe mengatakan bahwa saat ini pihaknya butuh bahan baku kelapa dalam organik. "Saat ini kita tengah mengajukan sertifikasi kebun organik ke lembaga yang memang berwenang. Tentu kita butuh rekomendasi juga dari pemerintah daerah dan bersyukur Disbun Kalbar sangat menyambut baik dan membantu," kata dia.

 

Menurut dia, pabrik minyak kelapa murni miliknya berada di Batu Layang, Pontianak. Saat ini sudah dilakukan audit dari BPOM Pontianak. "Saat ini minyak kelapa murni ini primadona di luar negeri. Kita menargetkan ekspor. Bahan baku dari Padang Tikar 2. Itu semua bentuk kita ikut andil dalam memberikan nilai tambah kepada petani di sana," kata dia.

Kualitas Rendah Pengaruhi Harga Karet di Kalimantan Barat

Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Barat, Heronimus Hero menyebutkan bahwa persoalan produktivitas dan kualitas masih menjadi kendala dan mempengaruhi harga karet di Kalbar. "Produktivitas yang rendah mendorong masyarakat untuk menghasilkan Bahan Olah Karet (Bokar) yang berkualitas rendah dengan mencampur material lain. Sehingga menghasilkan berat tambahan. Mutu Bokar yang rendah menyebabkan harga di tingkat petani juga rendah," ujarnya di Pontianak, Kamis.

Ia menjelaskan terkait harga juga tidak terlepas dari rantai pasar yang panjang. Sehingga banyak nilai tambah yang muncul justru dinikmati pengumpul. "Untuk itu selain fasilitasi benih bermutu, pembentukan Unit Pengolah dan Pemasar Bokar (UPPB) sangat diperlukan guna memangkas rantai pasar. Jadi hanya ada pekebun produser - UPPB - pabrikan. Pekebun dapat harga yang wajar, UPPB mendapat margin, dan pabrikan dapat Bokar bermutu," jelas dia.

Hero mengatakan bahwa komoditas karet sempat jadi primadona Kalbar dan nasional pada periode 1980 dan 1990. "Meskipun sampai saat ini juga karet masih menjadi andalan bagi sekitar 313 ribu lebih kepala keluarga di Kalbar. Di daerah ini luas tanam karet juga cukup besar menempati lebih dari 600 ribu hektare," kata dia.

Hanya saja kata Hero sebagian besar yang ditanam masyarakat Kalbar adalah karet lokal. Dengan begitu produktivitasnya relatif rendah sekitar 3000 liter lateks per hektare per tahun atau setara dengan 700 kilogram kadar karet kering (K3). "Produktivitas hasil karet petani kita masih di bawah nasional dan jauh di bawah Malaysia dan Thailand yang sudah mencapai 1800 kiloggram K3," katanya.

Satu di antara petani karet di Sambas, Juniarti menyebutkan bahwa saat ini harga karet kering di tingkat petani di kisaran Rp8.000 - Rp10.000 per kilogram. "Bahkan juga pernah sempat baru - baru ini harga karet mencapai Rp11.000 per kilogram. Namun untuk harga tersebut sangat jarang. Harga karet relatif stabil tidak ada kenaikan yang signifikan. Tentu harga yang ada masih tidak sesuai harapan petani," jelas dia.